Inspirasi sejarah Bambang PUS
PERANG POTE LEHA (1907)
Disebut Perang Pote Leha karena pada awalnya dua perwira tinggi Belanda berpangkat Letnan tewas ditangan Pakeloam (putera Mambakkai) di perbatasan Tabulahan dan Buntu Malangka bernama Pote' Leha.
Pada masa masa akhir pemerintahan Mambakkai (Pua' Mangngajo) Sebagai Indona Bambang (raja) tahun 1907, terjadi perang besar antara Bambang dan Belanda khusus nya di Taora Buntu Malangka, Sulawesi Selatan dipicu oleh tewasnya dua perwira tinggi Belanda di tangan Pakeloam (putera Mambakkai) dalam pertempuran di Pote Leha perbatasan Buntu Malangka - Tabulahan (makam dua perwira Belanda itu masih ada sampai sekarang di Lombang Lombang Mamuju)
Konon pertempuran ini sengaja dikobarkan oleh Pakeloam bersama pasukan nya dengan melakukan penyerangan mendadak tanpa sepengetahuan ayahnya Mambakkai. Pakeloam pun pada akhirnya gugur dalam perang Pote Leha.
Kabar tewasnya dua perwira tinggi Belanda dalam perang Pote Leha memicu kemarahan besar ratu Wilhelmina penguasa kerajaan Belanda pada masa itu. Taora Buntu Malangka pun diberi garis merah dalam peta pendudukan Belanda, perang besar dengan skala yang lebih luas tidak terhindar kan. Dengan melalui Matangnga, Mambi dan Aralle, Belanda memulai ekspedisi besar besaran mengerahkan pasukan artileri dan persenjataan berat nya seperti meriam, senjata api berlaras panjang dan granat untuk menyerang Taora Buntu Malangka yang kala itu masih bernama "Kampoong" (Tempat berkedudukan ketua Hadat/raja dari Kora Bambang) ...... Sementara di Taora, Saludadeko dan Sumua', Mambakkai (Puak Mangngajo) mulai menghimpun pasukannya dengan berbekal berbagai macam persenjataan convensional seadanya seperti pedang, parang, panah, tombak dan baju perang yang disebut 'babuk kara' semacam pelindung dan perisai dari kerang laut. Ekspedisi penyerangan Belanda bukanlah hal yang mudah, sebelum mencapai Buntu Malangka di tengah perjalanan sudah dihadang oleh pasukan Matangnga, Rantebulahan, Mambi dan Aralle yang mengakibatkan banyaknya korban jiwa di pihak Belanda, akan tetapi pengalaman dalam menaklukkan kerajaan Bone dan Gowa serta kerajaan kerajaan Bugis lainnya membuat Belanda tidak patah arang....Ambisi nya untuk menaklukkan Bambang salah satu kerajaan kecil (Hadat) Mandar tidak surut.......Ambisi Itu pun terlaksana ketika berhasil meruntuhkan benteng pertahanan Sumua' yang dipimpin oleh pua' Marrabang. Marrabang pun ditawan dan dijadikan Tameng untuk selanjutnya menyerang Taora dimana Mambakkai berkedudukan sebagai Indo atau Tomakaka (raja) yang dianggap paling bertanggung jawab dalam perang Pote leha yang menewaskan dua perwira Belanda yang dikenal dengan sebutan 'mata puteh' oleh masyarakat setempat.
Setelah melewati peperangan panjang dengan banyak nya korban jiwa kedua belah pihak terutama di pihak Bambang karena persenjataan yang tidak seimbang, Mambakkai dan sepuluh pahlawan lainnya pun gugur di medan perang termasuk Deppalulum salah satu pimpinan adat yang saat itu sudah tua renta (Paman Mambakkai) Mereka ditembak dan dieksekusi mati secara serentak karena tidak mau menyerah (Lora)... Alasan Mambakkai tidak mau menyerah atau Lora (bahasa Belanda) sungguh tidak masuk akal... Pasalnya beliau mengajukan satu permintaan, jika putera nya 'Pakeloam' bisa dihidup kan kembali baru lah dia mau menyerah.... Permintaan itu dianggap sebagai penghinaan dan ejekan bagi tentara Belanda. Pahlawan Mambakkai dan sepuluh pahlawan lainnya pun gugur sebagai ksatria yang pantang menyerah.
Catatan :
Mambakkai (Pua Mangngajo) tercatat dalam dokumen sejarah sebagai Pahlawan daerah Polewali Mamasa (Polmas)
Semoga perjuangan Mambakkai serta belasan pahlawan Taora lainnya, dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Taora agar tidak mudah menyerah dalam menghadapi tantangan hidup demi meraih masa depan yang gemilang.
Penulis: Audi Matanga P Mangngajo
Komentar
Posting Komentar